Senin, 09 September 2019

Polemik PB Djarum vs KPAI: Bagaimana Respon Netizen? Berikut Hasilnya!



Polemik PB Djarum vs KPAI: Bagaimana Respon Netizen? Berikut Hasilnya!


PB DJarum yang telah melakukan audisi sejak 2006 (Sumber: Detik.com)
Di tengah hiruk pikuknya bulutangkis menjelang turnamen akbar tahun depan, yakni Olimpiade Tokyo 2020, ada kabar buruk bagi para pecinta bulutangkis tanah air. PB Djarum, yang sedianya selalu mengadakan audisi bagi para pemain muda bulutangkis untuk kemudian diberikan beasiswa bulutangkis, mendadak akan menghentikan audisinya mulai tahun 2020 mendatang, seperti diwartakan Detik.com. Hal ini dikarenakan mereka diprotes oleh KPAI karena dugaan eksploitasi anak demi mereka dagang mereka, yang notabene adalah mereka dagang rokok.
Sontak publik pun terbelah dua, ada yang mendukung PB Djarum dan tetap meyakinkan agar audisi tetap diadakan, ada juga yang mendukung KPAI dan mengatakan bahwa KPAI sudah melakukan hal yang tepat dan mengkritik para pendukung PB Djarum. Bagaimana lanjutan ceritanya? Bagaimana respon netizen di dunia maya?
Ternyata, seperti dilansir Detik.com, mereka mengadakan jajak pendapat dengan judul "Pro Kontra PB DJarum vs KPAI soal Audisi Badminton Disetop. Bagaimana Pendapat Anda?" dan sampai pada hari ini (9/9), tampak yang mendukung PB Djarum jauh lebih mendominasi dengan jumlah 417 komentar, berbanding 38 komentar yang mendukung KPAI.
Pro Kontra PB Djarum vs KPAI (Sumber: Detik.com)
Dukungan bagi PB Djarum juga tak sampai disitu, karena di situs Change.org, juga muncul petisi untuk mengembalikan audisi PB Djarum, yang hingga hari ini (9/9) telah mencapai lebih dari 62.000 orang telah setuju. Bagaimana pendapat anda? Apakah anda termasuk orang yang pro PB Djarum? Atau justru pro KPAI? Berikan komentar ada dibawah ya!

Kamis, 05 September 2019

Demi Tiket Olimpiade Tokyo 2020, Fajar/Rian "Terpaksa" Turun Kasta! Kenapa?

Demi Tiket Olimpiade Tokyo 2020, Fajar/Rian "Terpaksa" Turun Kasta! Kenapa?


Fajar/Rian di Indonesia Open (Sumber: Indosport.com)

Olimpiade Tokyo 2020 semakin mendekat. Para atlet dan binaragawan dari berbagai negara mulai bersiap untuk mengikuti serangkaian kualifikasi di cabang olahraganya masing - masing, tak terkecuali olahraga Bulutangkis yang seringkali menjadi salah satu lumbung medali emas negara Indonesia. Saat ini, cabang ganda putra paling berpeluang memperebutkan medali di olimpiade mendatang.
Saat ini, diambil dari bwfbadminton.com, di posisi 10 besar bulutangkis cabang ganda putra, ada 3 pasang ganda putra Indonesia yang memperebutkan 2 tiket ke Olimpiade tahun depan (maksimal 2 pasang per negara), mereka adalah "The Minions" Marcus Fernaldi Gideon/Kevin Sanjaya Sukamuljo yang adalah ranking 1 dunia (ranking 4 di perhitungan poin menuju Olimpiade), "The Daddies" Mohammad Ahsan/Hendra Setiawan yang adalah ranking 2 dunia (ranking 1 di perhitungan ranking menuju Olimpiade), dan terakhir ada Fajar Alfian/Muhammad Rian Ardianto yang adalah ranking 6 dunia.
Nah, meski saat ini adalah ranking 6 dunia, nyatanya Fajar/Rian masih jauh sekali dari para rekannya di perhitungan poin menuju Olimpiade ini. Tercatat, mereka masih tercecer di urutan 15 sementara perhitungan poin menuju Olimpiade. Melihat posisi saat ini, tampak agak sulit bagi mereka untuk merangsek naik ke atas bila hanya sekadar mengikuti turnamen kelas atas. Tercatat, mereka hanya mencapai babak 16 besar di 2 turnamen besar terakhir (Jepang Terbuka dan Thailand Terbuka), serta hanya mencapai perempat final di Indonesia Terbuka (meski di Kejuaraan Dunia mereka berhasil selangkah lebih baik dengan mencapai babak semi final dan meraih medali perunggu setelah dikalahkan rekan senegara Hendra/Ahsan).
Maka dari itu, untuk mengejar poin untuk ikut Olimpiade, Fajar/Rian akhirnya terpaksa "turun kasta" dengan cara mengikuti turnamen yang levelnya jauh lebih rendah dibandingkan biasanya. Bila mereka diikutsertakan di turnamen Super 500 keatas (setara Super Series), maka demi memperbaiki posisi, terpaksa mereka harus mengikuti turnamen level yang lebih rendah, yang dimulai pada minggu ini yakni China Taipei Terbuka, yang diselenggarakan dari tanggal 3 - 8 September ini adalah turnamen berlevel Super 300 (setara Grand Prix Gold), dan setelah gelaran turnamen papan atas China Terbuka yang adalah turnamen Super 1000 dan gelaran Korea Terbuka yang adalah turnamen Super 500, pada 2 - 7 Oktober nanti, mereka juga akan mengikuti turnamen yang bahkan jauh lebih rendah lagi namun tetap menghasilkan poin, yakni di Indonesia Masters Super 100 yang setara dengan level Grand Prix, seperti diwartakan Indosport.
Hal tersebut memang cukup mengejutkan, namun terpaksa dilakukan demi mengejar poin ke Olimpiade. Juga, bermain di level rendah kembali dilakukan untuk menambah kepercayaan diri mereka yang masih agak kurang konsisten di turnamen level atas. Dan ditambah dengan status mereka yang pasti menjadi unggulan pertama di turnamen juga menjadi latihan mental yang bagus untuk mencapai juara. Akankah mereka berhasil menjadi juara di turnamen level rendah tersebut? Dan apakah mereka dapat mendekati raihan poin rekan senegara mereka? Kita tunggu saja sampai perhitungan poin Olimpiade selesai dilakukan tahun depan!