Kamis, 05 September 2019

Demi Tiket Olimpiade Tokyo 2020, Fajar/Rian "Terpaksa" Turun Kasta! Kenapa?

Demi Tiket Olimpiade Tokyo 2020, Fajar/Rian "Terpaksa" Turun Kasta! Kenapa?


Fajar/Rian di Indonesia Open (Sumber: Indosport.com)

Olimpiade Tokyo 2020 semakin mendekat. Para atlet dan binaragawan dari berbagai negara mulai bersiap untuk mengikuti serangkaian kualifikasi di cabang olahraganya masing - masing, tak terkecuali olahraga Bulutangkis yang seringkali menjadi salah satu lumbung medali emas negara Indonesia. Saat ini, cabang ganda putra paling berpeluang memperebutkan medali di olimpiade mendatang.
Saat ini, diambil dari bwfbadminton.com, di posisi 10 besar bulutangkis cabang ganda putra, ada 3 pasang ganda putra Indonesia yang memperebutkan 2 tiket ke Olimpiade tahun depan (maksimal 2 pasang per negara), mereka adalah "The Minions" Marcus Fernaldi Gideon/Kevin Sanjaya Sukamuljo yang adalah ranking 1 dunia (ranking 4 di perhitungan poin menuju Olimpiade), "The Daddies" Mohammad Ahsan/Hendra Setiawan yang adalah ranking 2 dunia (ranking 1 di perhitungan ranking menuju Olimpiade), dan terakhir ada Fajar Alfian/Muhammad Rian Ardianto yang adalah ranking 6 dunia.
Nah, meski saat ini adalah ranking 6 dunia, nyatanya Fajar/Rian masih jauh sekali dari para rekannya di perhitungan poin menuju Olimpiade ini. Tercatat, mereka masih tercecer di urutan 15 sementara perhitungan poin menuju Olimpiade. Melihat posisi saat ini, tampak agak sulit bagi mereka untuk merangsek naik ke atas bila hanya sekadar mengikuti turnamen kelas atas. Tercatat, mereka hanya mencapai babak 16 besar di 2 turnamen besar terakhir (Jepang Terbuka dan Thailand Terbuka), serta hanya mencapai perempat final di Indonesia Terbuka (meski di Kejuaraan Dunia mereka berhasil selangkah lebih baik dengan mencapai babak semi final dan meraih medali perunggu setelah dikalahkan rekan senegara Hendra/Ahsan).
Maka dari itu, untuk mengejar poin untuk ikut Olimpiade, Fajar/Rian akhirnya terpaksa "turun kasta" dengan cara mengikuti turnamen yang levelnya jauh lebih rendah dibandingkan biasanya. Bila mereka diikutsertakan di turnamen Super 500 keatas (setara Super Series), maka demi memperbaiki posisi, terpaksa mereka harus mengikuti turnamen level yang lebih rendah, yang dimulai pada minggu ini yakni China Taipei Terbuka, yang diselenggarakan dari tanggal 3 - 8 September ini adalah turnamen berlevel Super 300 (setara Grand Prix Gold), dan setelah gelaran turnamen papan atas China Terbuka yang adalah turnamen Super 1000 dan gelaran Korea Terbuka yang adalah turnamen Super 500, pada 2 - 7 Oktober nanti, mereka juga akan mengikuti turnamen yang bahkan jauh lebih rendah lagi namun tetap menghasilkan poin, yakni di Indonesia Masters Super 100 yang setara dengan level Grand Prix, seperti diwartakan Indosport.
Hal tersebut memang cukup mengejutkan, namun terpaksa dilakukan demi mengejar poin ke Olimpiade. Juga, bermain di level rendah kembali dilakukan untuk menambah kepercayaan diri mereka yang masih agak kurang konsisten di turnamen level atas. Dan ditambah dengan status mereka yang pasti menjadi unggulan pertama di turnamen juga menjadi latihan mental yang bagus untuk mencapai juara. Akankah mereka berhasil menjadi juara di turnamen level rendah tersebut? Dan apakah mereka dapat mendekati raihan poin rekan senegara mereka? Kita tunggu saja sampai perhitungan poin Olimpiade selesai dilakukan tahun depan!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar